MENGEJAR MENTARI DIPUNCAK GUNUNG PURBA

DSC_6157Malam mulai merangkak menapaki alur menuju puncaknya sebelum kemudian akan digantikan dengan hari yang baru. Gelap dan dingin pun menemani ketika perjalanan kami dimulai. Sepanjang jalan Djogja – wonosari, rumah-rumah penduduk sudah padam lampunya karena waktu memang sudah mendekati tengah malam. Hanya beberapa warung dipinggir jalan yang masih buka, ditandai dengan penerangannya yang masih menyala. Jalanan pun sudah mulai sepi, hanya tinggal satu dua kendaraan yang berpapasan dengan kami dijalan.

DSC_6124Sepanjang jalan angin dan udara yang sangat dingin membuat seluruh tubuh ini terasa ngilu,  apa lagi sepeda motor kami melaju denan lumayan kencang. Setengah jam kemudian kami mulai masuk wilayah perbatasan Bantul – Gunung kidul, ditandai dengan warung-warung dipinggir bukit yang masih buka, terlihat masih cukup banyak pengunjung yang sedang menikmati DSC_6125pemandangan kota Djogja dari atas bukit. Kawasan ini dikenal dengan nama “Bukit Bintang”, karena dari sini kota jogja terlihat sangat indah dengan kerlap-kerlip lampu kotanya laksana bintang-bintang dilangit. Jika malam minggu, kawasan ini biasanya selalu padat dengan pengunjung.

Maju sekititar seratus meter maka kita akan DSC_6201melewati gapura kawasan Gunung Kidul, sampai diperempatan kami pun harus mengambil jalan kearah kiri menuju ke tempat tujuan utama kami yakni Gunung Api Purba Ngelanggeran. Dari perempatan jalan wonosari sammpai ke lokasi kira-kira berjarak 6-7 km. Ketika kami mulai melintas, jalanan ini sudah sangat sepi dan gelap. Jalanannya kicil dan berkelok-kelok naik turun, meskipun kualitas aspal jalanya sudah bagus, karena kondisi malam hari sangat gelap maka  kami harus ekstra hati-hati. Ketika kami sampai dilokasi pintu masuk Gunung Ngelanggeran, jam sudah menunjukan pukul 24 malam. Kami langsung menuju ke parkir sepeda motor, ada kurang lebih 15 sepeda motor di tempat parkir. Ini menunjukan bahwa diatas puncak sudah ada banyak pendaki yang ngecamp disana. Harga tiket masuk RP.10.000 rupiah sudah termasuk parkir.

DSC_6081Setelah membeli tiket masuk dan menyiapkan semua perlengkapan termasuk kamera dan baterei, maka pendakian pun berdua kami  mulai. Jalur awal trekking sih tidak terlalu berat karna masih landai dan sudah ada penerangan jalan dari pihak pengelola sehingga kami tidak mengalami kesulitan apapu. Namun setelah kurang lebih 150 meter jalur mulai terasa terjal dan sempit, kiri kanan kami adalah batu-batu besar. Terkadang kami harus merangkak melewati celah sempit antara DSC_6089bebatuan dan terkadang kami juga harus mencari pegangan agar tidak tergellincir jatuh. Suasana gelap ditambah lagi dengan kabut yang sudah mulai turun membuat kami untuk lebih ekstra hati-hati dalam melakukan pendakian. Turunnya kabut membuat kawasan sekitar bebatuan besar yang biasanya dipakai untuk kegiatan spiritula tersebut mulai terasa mencekam dan agak membut bulu kuduk kami merinding, hanya suara binatang malam yang kami dengar diselingi gemerisik dari monyet-monyet penghuni gunung ini. Namun apapun gangnguan maupun godaan kami  sudah bertekat untuk sampai dipuncak, maka kami tertap maju terus dengan semangat untuk segera sampai.

DSC_6091Tak berapa lama kemudian kami pun sampai di pos I pendakian, pos ini sudah dikelola dengan baik ditandai dengan sudah dibangunya sebuah gasebo berbentuk pendopo untuk menyaksikan malam kota jogja dari atas perbukitan. Pos ini juga sudah dilengkapi dengan penerangan lampu listrik yang disalurkan menggunakan pipa-pipa kecil dari bawah. Dari pos ini jika mata diarahkan ke barat, maka anda kan menyaksikan kota Djogja laksana langit dimalam hari yang dipenuhi dengan bintang-DSC_6093bintang. Pemandangan dari sini tidak kalah dari kawasan “Bukit Bintang”, mata kami berdua tak jemu jemu menyaksikan keindahan ini dengan smengucap syukur kepada Tuhan akan keindahan ciptaanNya. Memang tiada yang sia-sia segala apa yang diciptakanya. Di pos I ini kami istirahat luamayan lama, karena teman seperjalanaku yang satu ini memang kecapean karena jarang melakukan perjalanan melalui trek yang lumayan sulit dan gelap.

Setelah istirahat kami rasa cukup, maka perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Kali ini perjalanan agak lambat dan tersendat karena track yang kami lalui lebih berat dari trek sebelum pos I tadi, ditambah lagi dengan baterei penerangan yang kami gunakan tiba-tiba mati. Kawan seperjalananpun sebentar-sebentar mengeluh kelelahan, sekarang kami tinggal mengandalkan cahaya bulan dan ketajaman mata kami sendiri. Sampai di sebuah treck berbentuk batu panjang dengan kemiringan hampir 90 derajad, adrenalin kami pun tertantang untuk menaklukannya. Dengan ekstra hati hati kami mulai memanjat batu tersebut dengan berpegangan pada celah-celah bebatuan,jika sampai terpeleset maka wasalam kami pasti tidak akan selamat. Dengan beban yang lumayan berat pada tas yang kami bawa maka pendakian batu terjal ini sungguh menguras tenaga kami, meskipun dengan susah payah akhirya rintangan ini berhasil kami lalui.

DSC_6133Setelah melewati bukit batu tersebut, maka kami menemui jalur tanah tanah yang sempit dan licin dengan debu dimusim kemarau ini. Kiri kanan kami hanya pepohonan kayu dan semak belukar yang ada, namun menurutku ini merupakan jalur yang sudah tidak terlalu berat karna sudah tidak terlalu banyak jalan menanjaknya. Dan akhirnya setengah jam kemudian kami pun sampai di puncak gunung sebelah timur, dari sini maka pemandangan akan langsung menuju kearah matahari terbit. Dan disinnilah kami akan mendirikan tenda untuk sejenak beristirahat menunggu datangnya matahari terbit.

Tenda berhasil didirikan kemudian kami membuat perapian menggunakan parafin dan ranting ranting kayu yang berhasil kami temukan. Perapian ini kami gunakan untuk menghangatkan tubuh kami dari udara dingin puncak gunung, selain itu juga kami gunakan untuk memasak air dan  membuat kopi. Niatku malam selain melihat pemandangan perkotaan dari puncak gunung juga ingin melihat munculnya galaksi “Bima Sakti” untuk aku abadikan dengan kamera. Namun sayang niatku tidak kesamapaian karena kabut yang turun sangat pekat bahkan menutupi bulan dan bintang-bintang dilangit. Maka akhirnya tak ada yang bisa kami lakukan selain menikmati kopi dan ngobrol dengan kawan di puncak gunung. Hingga akhirnya kamipun harus masuk tenda untuk sesaat terlelap.

DSC_6132Jam setengah lima kami bangun, kabut sudah hilang sama sekali.namun suasana gelap masih menyelimuti puncak gunung purba ini. Akupun berinisiatif untuk membuat perapian lagi untuk memasak air dan membuat kopi lagi. Sejanak kemudian apa yang kami tunggu pun akhirnya muncul, menyembul dengan malu-malu dari balik bukit disebelah timur gunung api purba ini. DSC_6140Langit mulai merona kuning kemerahan seiring dengan munculnya sang mentari pagi, sungguh sangat indah dan mempesona. Mentari pagi ini muncul dengan bentuk bulat sempurna dan warna kemerahan tanpa terhalangi kabut sedikitpun. Sambil mengabadikanya dengan kameraku, decak kagum ini sungguh meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Betapa agung dan indah segala apa ciptanNya, betapa kecilnya kita sebagai manusia dibandingkan dengan kekuasaaNya. Patutlah bagi kita untuk selalu bersyukur dan mengingatNya. Terbayar semua lelah dan susah payah kami selama pendakian semalam dengan suguhan keindahan yang kami dapatkan dari atas puncak gunung ini.

DSC_6157Setelah puas melihat pemandangan mentari pagi, akupun mulai menyusuru penjuru puncak bukitini untuk mengambil foto seluruh area puncak. Masih banyak monyet berekor panjang yang aku temui di hutan sekeliling puncak bukit, namun monyet monyet tersebut tidak menganggu. Mungkin sudah terbiasa DSC_6185dengan manusia, karena memang setiap malam minggu biasanya puncak gunung ini penuh dengan para pendaki maupun wisatawan yang berkunjung. Jam setengah tujuh pagi kami putuskan untuk turun gunung setelah sebelumnya membongkar tenda dan mengumpulkan semua sampah kedalam plastik untuk DSC_6140kami bawa turun. Jangan sampai kita meninggalkan sampah atau merusak lingkungan yang menjadi warisan untuk anak cucu kita kelak.

Perjalanan turun tidak terlalu berat karena memang sudah terang DSC_6205dan jalur pendakian terlihat dengan jelas. Ternyata perjalanan turun hanya membuthkan waktu 45 menit saja……..

This entry was posted in ADVENTURE, HIGHLANDS and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s