CANDI ARJUNA

1355970713709100353bSetelah semalaman berjuang dengan dinginnya udara dibukit Sikunir untuk menunggu munculnya “The Golden Sunrise”, jam 06.00 perjalanan selanjutnya pun dimulai untuk menyusuri kawasan Dieng yang lainnya. Perjalanan menurun dari puncak sikunir menuju tempat kendaraan kami di parkir ternyata tidak semudah  yang ada dalam pikiran, karena memang dibulan juli ini merupakan puncaknya udara dingin dikawasan dieng. Udara dingin yang menusuk hingga ketulang ini membuat perjalanan yang hanya sekitar  1km membuat seluruh badan terasa lelah sekali. Sampai diarea parkir kami langsung masuk ke mobil dan mulai melamjutkan perjalanan menuju kompleks  candi di Dieng, yakni kompleks Candi Arjuna.

Di sinilah eksotisme sejarah berusia ribuan tahun telah berharmoni bersama keindahan dan sejuknya udara pegunungan. Kompleks Candi Arjuna adalah candi bercorak Hindu peninggalan abad ke-7 yang teguh menantang dinginnya cuaca di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Candi-Arjuna1aPada komplek ini berdiri beberapa candi lainnya. Candi Arjuna terlihat lebih besar dibandingkan candi lainnya di kompleks tersebut, sehingga dianggap sebagai candi utama di komplek ini. Di bagian depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar yang berbentuk kubus dan lebih pendek. Bagain utara Candi Arjuna terdapat Candi Srikandi, Sembadra dan Puntadewa. Bagi anda yang pernah berwisata ke Gedong Songo di Ungaran, Candi Arjuna ini memiliki kesamaan dengan candi di Gedong Songo. Penataan taman pun sudah baik di kawasan Candi Arjuna dan terdapat jalan setapak yang menghubungakan kompleks Candi Arjuna dengan kompleks Candi Gatotkaca. Pada komplek Candi Gatotkaca hanya Candi Gatotkaca saja yang masih berdiri utuh sedangkan candi lainnya seperti Setyaki, Nakula dan Sadewa hanya tinggal reruntuhannya saja.

Candi Arjuna berukuran 6 x 6 m dan menghadap ke arah barat. Pada pintu masuk dan relung-relungnya dihiasi kala makara. Atap candi berjenjang dengan menara-menara kecil di setiap sudut. Ditemukannya prasasti berangka tahun 731 Caka (809 M) di dekat Candi Arjuna dapat menjadi petunjuk pembangunan candi sekitar awal abad IX M

Lingkungan sekitar candi juga kurang mendukung pemeliharaan. Lahannya sudah lama digarap penduduk untuk lahan pertanian tanaman kentang, sayur-mayur, dan bunga-bungaan. Mulai tahun 2010 kompleks Candi Arjuna mulai digunakan untuk pengembangan wisata yang dikemas oleh Dinas Pariwisata Banjarnegara dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Mereka menyelenggarakan acara budaya tahunan yang telah dikenal dengan nama DCF (Dieng Culture Festival).

Datang pagi-pagi sekali sebelum Kompleks Candi Arjuna dipadati pengunjung akan memberikan keleluasan Anda untuk menikmati dan mengabadikan keindahan candi-candi tersebut. Namun begitu, pada musim-musim tertentu, kabut akan menutupi langit Dieng sehingga kesan langit muram mungkin akan menjadi latar foto-foto yang dapat diabadikan.

This entry was posted in ARSITECTURE, HIGHLANDS, HISTORY and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s