KEMBALI KE KOTA LAMA

DSC_9400aKami memulai perjalana ke Semarang pada tanggal 4 januari 2014.Berangkat dari kota Yogyakarta sore sekitar jam 19.00wib bersama empat orang kawan hanya dengan satu tujuan untuk bisa kembali mengelilingi keindahan malam di Kota Lama. Perjalanan ke Semarang kali ini lumayan melelahkan karena jalur Yogyakarta –Semarang cukup padat dengan kemacetan di beberapa titik jalan. Kaarena memang bertepatan dengan hari terakhir musim libur Natal, tahun baru dan juga libur sekolah. Ditambah lagi dengan hujan  yang lumayan deras yang turun sudah sejak dari siang harinya, membuat saya harus extra hati-hati dalam mengemudikan kendaraan.

Kira-kira jam 23.00 kami mulai memasuki kota Semarang, jalanan  sudah terlihat mulai agak lengang di sana-sini. Saya pun  sempat berguman, baguslah jadi bisa menikmati kota lama dengan agak lebih enak dan nyantai. Mendekati jam 00.00 kami pun memasuki kawasan Kota lama, benar dugaanku  daerah tersebut sudah mulai sepi. Kami pun memarkirkan kendaraan kami di sekitar  Gereja Blenduk, untuk kemudian berkeliling dengan jalan kaki.

DSC_9344aSetelah sekian lama, akhirnya sayapun bisa melangkahkan kembali kaki ini dikawasan Kota Lama semarang . Sekedar untuk menikmati suasana kota-kota eropa dimalam hari dan juga sekedar untuk mengingat dan membayangkan penggalan-penggalan sejarah kota ini dimasa lalu. Tujuan pertama tentu saja ke Gereja blenduk yang memang paling dekat dengan lokasi parkir kendaraan kami.tidak ada yang banyak berubah dengan bangunan gereja ini, masih indah dan mempesona seperti setahun yang lalu ketika aku kesini. Ini mungkin karena bangunan ini masih berfungsi sebagaimana mestinya dan tentu juga terawat dengan baik. Yang cukup mengejutkan adalah kondisi-bangunan di sekitarnya, banyak bangunan yang kondisinya semakin memperihatinkan dan menyedihkan kalau menurut saya. Seolah-olah bangunan-bangunan tersebut tidak terawat atau bahkan cenderung terabaikan dan dibiarkan begitu saja. Bangunan-banguna yang megah pada jamanya itu seakan tinggal menunggu kerobohannya saja jika tetap dibiarkan begitu saja.

Saya pun kemudian mencoba untuk mengeliling sudut sudut kota lama ini, untuk melihat bagaimana kondisi bangunan-bangunan bergaya Eropa yag lainya. Sungguh sesuatu yang mengenjutkan dan sangat memprihatinkan ternyata kondisi hampir semua bangunan disini sama dengan bangunan yang terletak disekitar Gereja blenduk, terbengkalai, tidak terawat dan sudah mulai rusak di sana sini. Ditambah lagi dengan kondisi dibeberapa titik yang selalu terendam air,karena banjir rob yang selalu mengancam kelestarian kawasan ini menambah kondisi bangunan-bangunan ini semakin memprihatinkan.

asqwMelihat kondisi kawasan ini yang semakin rusak ini, terbesit pertanyaan  apakah usaha yang sudah dilakukan oleh pemerintah kota semarang atau bahkan pemerintah provinsi jawa tengah untuk mencoba melestarikan sekaligus memperbaiki kawasan ini, mengingat semarang adalah ibu kota propinsi. Sungguh jauh berbeda sekali dengan kondisi Kota Tua yang ada di Jakarta yang memang oleh pemerintah setempat diperhatikan dengan baik. Kawaasan ini seharusnya menjadi salah satu kebanggan kota semarang bahkan Jawa tengah, karena dari sinilah ibu kota jawa Tengah berasal. Semarang dan  Kota Lama seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan begitu saja, dan tentu saja ini menghadirkan keunikan tersendiri .

Kota Tua menyimpan sejumlah bangunan tua lainnya yang kini kelihatan makin rapuh. Di beberapa tempat tampak bagian tembok mulai jebol dan pintu-pintu bangunan yang terbuat dari kayu jati kelas satu sudah mulai dimakan pelapukan akibat kurang perawatan. Kota Tua yang memiliki sekitar 80 bangunan tua yang sebagian besar dibangun pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, terletak di wilayah bagian utara. Dari ketinggian bukit-bukit di bagian selatan, setiap orang bisa menikmati keindahan Kota Tua dengan latar belakang Pelabuhan Tanjung Mas dan Laut Jawa. Kerlap-kerlip lampu kota dan lampu pelabuhan kelihatan di malam hari.

sayangnya keindahan itu harus punya beban kondisi bangunan-bangunannya yang memprihatinkan serta hiruk-pikuk arus lalulintas kendaraan. Terutama pada siang hari, arus kendaraan hampir tak pernah henti sehingga bisa menimbulkan getaran yang mengganggu kestabilan bangunan, di samping sangat menganggu para pejalan kaki.

as3Namun, ancaman paling berat selama ini adalah akibat kurangnya perawatan. Bangunan-bangunan Kota Tua umumnya merupakan bangunan besar berlantai dua. Kecuali beberapa instansi atau perusahaan tertentu, seperti PT Telkom, Kantor Pos, PT Asuransi Jiwasraya, sebagian besar bangunan lainnya digunakan oleh lebih dari satu perusahaan. Bahkan ada di antaranya yang menggunakan satu bangunan lebih dari satu perusahaan atau kegiatan usaha.

Ada yang menggunakan sebagai cabang kantor dagang, kantor pelayaran, kantor notaris dan pengacara serta kantor-kantor lainnya. Kemampuan kegiatan usaha tersebut tidak sama. Bahkan karena skala usahanya tergolong kecil, mereka hanya mampu membayar sewa tanpa bisa melakukan perawatan, apalagi perbaikan. Akibatnya, sebagian besar kondisi bangunan Kota Tua mengalami kerusakan. Genting-genting yang bocor dibiarkan sehingga air menggenangi lantai dan mempercepat proses kerusakan bahan bangunan. Bangunan lantai dua yang terakhir digunakan PT Perkebunan XV misalnya, dibangun tahun 1887. Tanggal 17 Agustus 1974 bangunan tersebut diresmikan pemakaiannya setelah mengalami renovasi. Namun sejalan dengan perubahan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, kini sebagian besar ruang dari gedung tersebut dan gedung-gedung lainnya, dalam keadaan kosong.

Tembok luar bangunan yang terletak di bagian paling atas, sudah ditumbuhi tanaman liar. Akar-akarnya mencengkeram, merusak tembok bangunan. Penderitaan bangunan itu makin lengkap jika turun hujan. Pada siang hari, ruang kosong yang terletak di bawah genting dan langit-langit bangunan dijadikan sarang ratusan ribu kelelawar sehingga gedung tersebut dijuluki “Gedung Kelelawar”.

Nasib yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih parah lagi dialami sejumlah bangunan-bangunan tua lainnya. Tembok-temboknya dibiarkan terkelupas dan batu-batanya mulai lepas. Kayu-kayu bangunan yang terbuat dari jati atau kayu pilihan lainnya sudah mulai dimakan aus akibat terendam air pada setiap turun hujan. Di luar Kota Tua, bangunan tua yang megah Lawang Sewu yang menjadi ciri khas kota Semarang kini mulai kehilangan pamor. Bangunan tersebut dirancang dengan arsitektur modern, merupakan karya Prof Klinkkmaer dan Quendaq.

Seperti halnya di daerah-daerah lain, ancaman paling besar terhadap bangunan-bangunan tua di kota ini berasal proses waktu yang memakan kekuatan bangunan itu sendiri. Adanya serangan air hujan hanyalah salah satu sebab, di samping terik matahari yang menjadi faktor penyebab yang bisa mempercepat proses kerapuhan bangunan secara alami.

Jam 03.30 wib, saya telah selesai menelusuri penjuru kawasan kota lama, dan sudah waktunya pula untu beristirahat dan kembali kehotel. Kutinggalkan Kota Lama dengan segudang rasa haru dan kesedihan setelah melihat kondisinya yang sekarang sudah sangat memprihatinkan. Kemegahan dan keindahan bangunan seolah sudah tenggelam dan tinggal menanti ajal kepunahan…..sepenggal sejarah yang sudah terlupakan akan semaki  menjadi terlupakan………….

Dengan kurangnya perawatan, seberapa lamakah kekayaan yang mempunyai nilai budaya, sejarah dan ekonomi itu bisa bertahan?

This entry was posted in ARSITECTURE, HISTORY. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s