DIENG CULTURE FESTIVAL ” Ritual Potong Rambut Gimbal”

wd4Dieng berasal dari Kata Dihyang yang berarti Dewa. Seringkali juga disebut sebagai Negeri Para Dewa, hal tersebut dapat ditelusuri dari peninggalan-peninggalan berupa candi tempat Dewa Bersemayam, namanya kompleks Candi Arjuna yang tidak terlalu memukau seperti Candi Prambanan atau Borobudur di Magelang, namun keberadaannya yang terletak di ketinggian diatas 2000 mdpl patut diapresiasi. Dieng memilik banyak objek wisata menarik diantaranya Kompleks Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Telaga Merdada, Sumur Jalatunda, Telaga Warna, Dieng Plateu Theeater (DPT), dan Bukit Sikunir yang dari puncaknya kita bisa menikmati sunrise serta pemandangan gunung-gunung disekitarnya.
wd3Tak hanya terkenal akan keindahan wisata alamnya saja, keunikan budaya menjadi daya tarik tersendiri. Dieng Culture Festival adalah pesta rakyat terbesar di pegunungan Dieng, yang diselenggarakan setiap tahun hanya sekali. Menampilkan ruwatan cukur rambut gembel yang telah lama melegenda, atraksi seni budaya, wayang kulit dan pameran kerajinan khas pegunungan Dieng. Tahun ini  diselanggarakan pada tanggal 30 Juni 2013
Semua akan kagum, dengan satu pertunjukan ini. Penari-penari rampak yakso bak prajurit perkasa di kahyangan Dieng, dengan baju merahnya yang menyala berani. Memberi ritme pada setiap gerakanya, alunan musik itu menyatu pada suasana alam. Inilah satu atraksi yang tak boleh dilewatkan begitu saja dalam pameran seni budaya (Dieng Culture Festival).

wd5Tradisi ruwatan terhadap anak berambut gimbal menjadi puncak pergelaran “Dieng Culture Festival (DCF) di Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah,

Ritual diawali dengan kirab dari halaman rumah pemangku adat masyarakat Dieng, Mbah Naryono, menuju lokasi ruwatan di kompleks Candi Arjuna. Ribuan wisatawan dalam dan luar negeri turut menyaksikan prosesi tersebut.
Ketujuh anak berambut gimbal tersebut menumpang dua delman dengan pengawal utama, yakni dua tokoh sesepuh “Cucuk Ing Ngayodya”, dua orang pembawa tungku dupa penolak bala, para prajurit pembawa tombak, keris dan pusaka lainnya, serta dua orang pembawa bunga cucuk lampah (pembuka jalan).

wd2Selain itu, barisan para pembawa permintaan (sesaji dan ubo rampe) anak gimbal, pembawa “buju abang”, “buju putih”, “buju ireng”, “buju kuning”, “buju robyang”, “buju kelung”, “buju sanggabuwana”, “buju tulak”, “buju panggang”, “buju kupat”, “rakan jajan pasar”, “rakan buah”, kelapa muda hijau, pisang raja emas, kinang, alat rias, berbagai cangkir dengan 14 jenis minuman, dan “bobo ronyang”.

wd6Kirab yang dilakukan dengan berkeliling desa juga diikuti para sesepuh, tokoh masyarakat, kelompok paguyuban seni tradisional, dan masyarakat.  Sesampainya di kompleks Candi Arjuna, tujuh anak berambut gimbal itu segera dibawa menuju ke Sendang Maerokotjo atau Sendang Sedayu untuk dilakukan penjamasan atau pencucian sebelum rambut gimbalnya dipotong.

Prosesi penjamasan tersebut dipimpin langsung oleh Mbah Naryono dengan menggunakan air jamasan yang ditambah kembang tujuh rupa serta air dari tuk (mata air) Bimalukar, Tuk Sendang Buana (Kali Bana), Tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek, dan tuk Sibido (tuk Pitu).
Setelah prosesi penjamasan selesai, anak-anak berambut gimbal dikawal menuju tempat pencukuran di Candi Puntadewa, kompleks Candi Arjuna.

Sebelum ruwatan atau pencukuran rambut gimbal dimulai, Mbah Naryono terlebih dulu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa guna memohon keselamatan dan kesehatan bagi anak-anak berambut gimbal yang hendak diruwat.

wd1Sementara prosesi ruwatan atau pemotongan rambut gimbal dilakukan oleh para pejabat dan tamu undangan yang telah ditunjuk oleh panitia, serta dengan iringan tembang macapat Dandhanggula. Setelah prosesi pemotongan rambut gimbal selesai, acara dilanjutkan dengan tasyakuran, sedangkan potongan rambut-rambut gimbal selanjutnya dilarung di Telaga Balekambang.

wd7Upacara pemotongan rambut gimbal sendiri merupakan tradisi turun temurun masyarakat Dieng. Di mana anak yang akan dipotong rambut gimbalnya, dipercaya sebagai anak – anak istimewa titisan para dewa.  Rambut gimbal ini terjadi dengan sendirinya dan tidak semua anak yang lahir di Dieng memiliki rambut gimbal. Rambut ini akan muncul ketika anak masih bayi, saat dicukur rambutnya, maka anak akan sakit dan selanjutnya rambutnya tumbuh menggimbal. Rambut gimbal ini baru akan dipotong bila si anak sudah menginginkannya. Jadi, atas permintaan si anak. Dan ada satu syarat yang harus dilaksanakan oleh orang tua, bahwa semua permintaan si anak saat akan dipotong rambutnya harus dituruti. Untung gak ada yang minta yang aneh – aneh Paling anak minta dibelikan sepeda, kambing atau barang lainnya. Yang paling berat kalau anak minta ditanggapkan wayang kulit. perlu biaya besar. Dan biasanya anak minta dicukur rambutnya pada usia 7 – 9 tahun.

Foto: Widhi_cruz

This entry was posted in ART'S And CULTURE, HIGHLANDS and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to DIENG CULTURE FESTIVAL ” Ritual Potong Rambut Gimbal”

  1. Akarui Cha says:

    unik banget ya ruwatan di dieng ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s