ISTANA RATU BOKO

SONY DSCIstana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.

IMG_0028Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

SONY DSC Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan ditemukan tulisan ‘Panabwara’. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi ‘kekuatan’ sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama. Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.

SONY DSCSumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada harmoni awalnya.

Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

528829_3574973985922_1620253079_2719238_1651017253_nSedikit yang tahu bahwa istana ini adalah saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatera. Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana ini sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena merasa sebagai orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno akibat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani (saudara Balaputradewa. Setelah ia kalah dan melarikan diri ke Sumatera, barulah ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Sebagai sebuah bangunan peninggalan, Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan lain. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya istana ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Itu ditunjukkan dari adanya bangunan berupa tiang dan atap yang terbuat dari bahan kayu, meski kini yang tertinggal hanya batur-batur dari batu saja

Beberapa situs candi yang melingkari sekitar Istana ratu Boko tersebat di sisi selatan dan barat bukit, seperti candi Ijo, Candi Baron, dan Candi Miri.  Secara arkeologi, Istana Ratu Boko dapat di bagi menjadi dua bagian yaitu istana sebelah bukit barat dan timur. Komplek yang berada di sebelah barat berupa jalan setapak, saluran air, kolam-kolam dan fragmen gerabah baik lokal maupun asing.

Sementara di bagian timur terbagi lagi menjadi tiga yaitu kelompok tenggara, barat dan timur. Sisa istana yang berada di sebelah barat menyimpan beberapa peninggalan seperti candi batu putih, gapura 1 dan gapura 2, tempat pembakaran, talut, tempat penampungan air, konstruksi umpak dan dua buah batur paseban. Letaknya berada di depan komplek persis ketika petualang masuk pertama ke istana ratu Boko.  Sisa istana yang berada di tenggara berisikan bangunan pendopo, beberapa buah batur candi, miniatur candi, beberapa kolam keputren, dan dua buah batur keputren. Sedang di sisi timur istana terdapat gua lanang (laki), gua wadon (perempuan), kolam penampungan dan tangga.

Secara historis, diperkirakan istana ratu Boko ini merupakan peninggalan yang bercorak hindu dan budha yang di bangun sekitar abad ke 8 hingga ke 9 masehi.  Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan prasasti yang bertuliskan tahun 792 yang ditorehkan ketika zaman Rakai Pikatan.  Sekitar tahun 856 masehi seorang yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni (bawahan Rakai Pikatan) mulai merombak bukit boko menjadi tempat kediaman.

Untuk mancapai Istana ratu Boko tidaklah sulit, apabila anda memulai dari arah Solo atau Klaten pastikan untuk sampai di candi Prambanan, lalu ke barat menuju pasar Prambanan. Setelah itu bergerak menuju selatan ke arah Piyungan. Sekitar 5 menit perjalanan, lihat penunjuk arah parkir candi Boko.  Untuk yang melewati jogja bisa menuju arah timur dahulu ke arah Prambanan lalu sebelum sampai candi prambanan (pertigaan pasar Prambanan) silakan untuk belok kanan menuju piyungan. Kalau anda hafal jalan jogja bisa juga langsung menerobos melewati Berbah.

Sebenarnya ada jalan altenatif yang lain langsung menuju puncak istana. Ketika kita memilih parkir di bawah (dekat dengan jalan) maka diharuskan untuk berjalan menaiki tangga. Namun terdapat jalur altenatif yang bisa di lalui mobil maupun motor. Sederhananya, apabila sudah sampai tempat parkir utama di utara candi yang dekat jalan, anda jangan buru-buru untuk parkir. Jalan altenatif dekat, silakan untuk berjalan lagi ke arah barat sekitar 1 kilometer melewati bukit. Lalu belok ke kiri di samping bukit istana ratu boko. Jalanan memang sempit kerana memang jalan ini merupakan jalan desa. Hanya bergerak sekitar 5 menit-10 menit maka bisa langsung parkir di atas bukit istana ratu boko. Tidak harus berjalan melewati tangga.

Untuk tiket ke istana ratu Boko cukup murah, tiap orang hanya membayar sebesar Rp. 25.000. Setelah membeli tiket kita bisa masuk dengan tenang, belum beberapa langkah ke arah istana. Disajikan beberapa rusa cantik yang berada di sisi kanan jalan. Juga taman yang rindang untuk duduk sejenak. Lalu melewati gapuro istana yang berjumlah dua. Di tempat inilah yang menjadi tempat yang terbaik  untuk berfoto mengabadikan bersama keluarga atau kawan.  Disebelah kiri terdapat bangunan seperti balok, menurut situs sejarah candi Boko tempat itu merupakan tempat pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 26 meter x 26 meter dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk tempat pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam yang berada di sisi timur Candi pembakaran, sekitar 10 meter dari Candi Pembakaran.

Perjalan selanjutnya menuju arah Keputren. Sebelum menuju keputren, petualang akan melawati Paseban. Paseban ini terdiri dari 2 batur.  Paseban sebelah timur memiliki panjang 24.6 meter, lebar 13.3 meter dan tinggi 1.16 meter. Sedang paseban sebelah barat memiliki panjang 24.42 meter, lebar 13.34 meter dan tinggi 0.83 meter. Diperkirakan, dua paseban ini dulu saling berhadapan, namun sampai sekarang fungsi ini belum diketahui secara pasti.  Dinamakan paseban karena disesuiakan menurut kata yang umum di gunakan oleh keraton jaman sekarang yang memiliki fungsi sebagai ruang tunggu tamu yang hendak menemui raja.

Perjalanan selanjutnya adalah Pendopo Istana ratu Boko. Pagar pendopo ini mempunyai panjang 40,80 meter, lebar 33,90 meter dengan ketinggian 3,45meter. Kaki dan atap di kelilingi batu keras (batu adesit) sementara badan dinding berasal dari batu putih. Didalam pagar keliling terdapat dua buah batur. Batur di sisi utara berukuran panjang 20.57 meter dan lebar 29.49 serta tinggi 1.43 meter. Sedangkan batur selatan yang disebut sebagai pringgitan berukuran panjang 20.50 meter, lebar 20.49 meter dan tinggi 1, 51 meter. Kedua batur ini dihubungkan dengan selasar yang terdiri dari batu adesit. Diatas batur pendopo terdapat 24 umpak, sedang di atas batur pringgitan terdapat 12 umpak. Umpak2 ini diperkirakan digunakan untuk landasan tiang penyangga yang terbuat dari kayu. Batur ini merupakan bangunan sentral dari istana Medang, yang di atasnya terdapat tiang-tiang penyangga bangunan dan diperkirakan mempunyai dinding bangunan.

Setelah perjalanan menuju Pendopo, maka silakan anda menuju keputren yaitu tempat pemandian bagi keluarga raja. Pengaturan air masuk dan pembuangan yang sudah terstruktur menimbulkan banyak pertanyaan. Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini. Berjalan ke arah ujung Istana akan di temui banyak reruntuhan yang menajubkan. Beberapa masih bisa dikembalikan semula, namun kebanyakan sudah tidak bisa lagi terurus.

Perhelatan belum berakhir, masih ada tempat yang menarik yaitu Goa Istana ratu Boko. Goa ini terbagi menjadi dua, yaitu goa wadon (perempuan) dan Goa lanang (lelaki).  Dinamakan gua wadon yang berada dibawah karena di temukan semacam relief (tulisan) yang mengambarkan jasad perempuan (simbol Yoni) yang berada di depan pintu.  Sementara di goa lain ditemukan relief lingga yang mengambarkan lelaki yang berada di atas bukit. Penyatuan kedua simbol ini bermakna kesuburan, dengan harapan tempat tersebut lebih subur. Secara fungsional, goa ini berfungs sebagai tempat semedi.

Secara keseluruhan, komplek gua ini merupakan tempat perjalanan terakhir. Apabila hendak kembali ke gapura bisa melewati dua jalan. Pertama jalan utama menyusuri jalan yang tadi dilewati atau jalan setapak yang lebih cepat dan mudah. Cukup kembali ke arah pendopo persis di depan goa terdapat jalan setapak sebelah kanan dan nampak beberapa rumah disana. Berjalan beberapa menit, kita akan langsung berada di komplek peseban.

This entry was posted in ART'S And CULTURE, HISTORY and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s